Musim Kemarau Tiba, Distribusi Air Bersih Andalkan Suplay PDAM Blora

INFOKU, BLORADampak musim kemarau mulai dirasakan warga di Blora. 

Sejumlah desa, warga harus berburu air bersih sejak dini hari karena sumur-sumur mulai mengering.

Di sisi lain, Perumda Air Minum Tirta Amerta Blora terpaksa menerapkan distribusi air secara bergilir akibat debit air baku menyusut drastis.

Kondisi tersebut mulai dirasakan warga Desa Plosorejo, Kecamatan Randublatung.

Baca juga : DPRD Blora Siap Jamin Sekdes Nglebak Blora Agar Tak Ditahan

Sejumlah sumur warga tak lagi mengeluarkan air sehingga mereka berbondong-bondong mencari sumber air yang masih tersedia, mulai dari sungai hingga genangan di area persawahan.

Yanto, salah seorang warga, mengaku kini harus berangkat lebih pagi agar bisa mendapatkan air bersih.

"Kalau tidak berangkat pagi-pagi, ya tidak kebagian. Harus antre dan tempat mengambil air juga jauh dari rumah," ujarnya.

Dampak kemarau juga dirasakan Perumda Air Minum Tirta Amerta Blora.

Baca juga : Ada 19 Siswa Blora Diduga Keracunan MBG, Sampel Menu MBG Dikirim ke BPOM

Direktur Perumda Air Minum Tirta Amerta Blora, Yan Riya Pramono, pada pers mengatakan debit air baku di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Ngampel mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Pada kondisi normal, sumber air mampu menopang produksi hingga sekitar 18 jam setiap hari.

Namun kini, pasokan hanya mampu bertahan sekitar empat jam.

"Penurunannya sangat signifikan. Dari sekitar 18 jam menjadi hanya empat jam per hari. Akibatnya, distribusi ke pelanggan, terutama di Desa Tutup dan sepanjang Jalan Gatot Subroto, ikut terganggu," jelasnya.

Baca juga : Terkait Polemik Galian C, DLH Blora Desak ESDM Lakukan Evaluasi

Untuk meminimalkan dampak gangguan layanan, PDAM menerapkan sistem distribusi bergilir agar seluruh pelanggan tetap memperoleh pasokan air meski volumenya belum maksimal.

"Kami melakukan penggiliran distribusi supaya semua pelanggan tetap mendapat air. Memang belum bisa normal karena kemampuan produksi juga turun," tandasnya. (Endah/IST


Post a Comment

0 Comments