Ada 19 Siswa Blora Diduga Keracunan MBG, Sampel Menu MBG Dikirim ke BPOM

INFOKU, BLORA - Sampel menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogowanti sudah dikirim Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora ke Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 

Sebelumnya, sebanyak 19 siswa SDN Sendangrejo mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG, yang didistribusikan oleh SPPG Bogowanti di bawah Yayasan Mitra Cendekia Waskita. Para siswa kemudian mendapat penanganan medis di Puskesmas Ngawen.

Kepala Dinkes Blora, Edi Widayat mengatakan, pemeriksaan dilakukan secara berlapis.

Baca juga : IPAL Bermasalah, Wabup Instruksikan Operasional Dapur SPPG Bogowanti Berhenti Sementara

Selain diuji di UPT Laboratorium Kesehatan Kabupaten Blora, sampel makanan juga dikirim ke BPOM untuk memperoleh hasil yang lebih komprehensif.

"Seluruh sampel yang kami ambil sudah dikirim untuk diperiksa. Saat ini kami masih menunggu hasil uji laboratorium sebelum menyimpulkan penyebab kejadian," ujarnya.

Usai insiden tersebut, tim Dinkes langsung melakukan inspeksi menyeluruh di dapur SPPG Bogowanti.

Pemeriksaan meliputi proses penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan makanan, distribusi, hingga kebersihan peralatan makan.

Baca juga : Walau SPPG Bogowanti Gunakan Minyak Goreng Bersubsidi, Kok Hanya Dihimbau

Kepala Sub Koordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkes Blora, Tutik Rahayu menjelaskan, seluruh tahapan telah dievaluasi.

Sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian juga telah diamankan untuk kepentingan pemeriksaan laboratorium.

"Semua tahapan kami evaluasi. Sampel makanan sudah kami ambil, sekarang tinggal menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebagai dasar untuk menentukan penyebabnya," kata Tutik.

Tutik menegaskan, hingga saat ini belum ada dasar untuk menyimpulkan salah satu menu, termasuk susu, sebagai penyebab keracunan.

Menurutnya, seluruh dugaan masih harus dibuktikan melalui hasil uji laboratorium.

"Kami tidak ingin berspekulasi. Penyebab pastinya baru bisa diketahui setelah seluruh hasil pemeriksaan laboratorium keluar," tandasnya.

Berdasarkan informasi dari UPT Laboratorium Kesehatan Kabupaten Blora, pemeriksaan mikrobiologi diperkirakan memerlukan waktu sekitar satu pekan.

Proses tersebut mencakup tahapan inkubasi bakteri sebelum sampel dapat dianalisis.

Baca juga : Walau Tak Punya IPAL, Dapur SPPG Khusus Blora Lolos dari Suspensi

Selain menelusuri kemungkinan penyebab dari makanan, Dinkes juga melakukan evaluasi terhadap sumber daya manusia di dapur SPPG, termasuk kompetensi petugas yang menangani penyusunan menu gizi.

"Kami menyarankan agar petugas yang menangani gizi terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan, sehingga standar pelayanan dan keamanan pangan dapat semakin terjaga," pungkasnya. (Endah/IST


Post a Comment

0 Comments