INFOKU, BLORA - Permasalahan kebersihan dan tata kelola dapur kembali mencuat di tengah dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG).
Dinas Kesehatan Daerah
(Dinkesda) Blora menemukan sejumlah kondisi yang belum sesuai standar di SPPG
Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan.
Yang paling mencolok, tempe ditemukan diletakkan tepat di depan pintu toilet dapur.
Baca juga : Dugaan Keracunan MBG Pada 136 Siswa SMAN 1 Tunjungan, Wabup Blora Usulkan Penutupan SPPG Sukorejo 2
Kondisi tersebut
dinilai berisiko terhadap kebersihan bahan pangan karena berpotensi
terkontaminasi.
Temuan itu didapati
saat Dinkesda melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), Selasa (8/9),
menyusul dugaan keracunan yang dialami siswa SMA Negeri 1 Tunjungan.
Kepala
Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkesda
Blora, Tutik Rahayu pada pers mengatakan, penyimpanan bahan makanan di SPPG
tersebut belum sepenuhnya sesuai SOP.
“Pada intinya kita
tadi melihat tempat penyimpanan makanannya tidak sesuai SOP, tidak ada palet,”
ujarnya.
Potensi
Penyakit
Petugas juga
menemukan genangan sisa air daging di lantai.
Baca juga : Cemaran Tinja dalam Air, Penyebab Keracunan MBG Akhirnya Terbongkar
Di sekitar lokasi
terdapat beras, telur, timun, dan cabai yang diletakkan tanpa palet.
Sejumlah bumbu
seperti bawang putih masih terbuka.
Bawang merah, cabai
merah giling, dan lengkuas juga ditemukan berada di atas wastafel.
Bahkan di area
tersebut terdapat sabun pencuci piring dan galon air mineral kosong.
Penempatan tempe di
depan toilet menjadi sorotan tersendiri.
“Kalau di depan
kamar mandi gak boleh. Harus ada tempat penyimpanan bahan makanan. Itu semua
bahan makanan harus ada tempatnya sendiri, ada gudangnya sendiri,” tegas Tutik.
Saat ditanya apakah
posisi tempe tersebut berpotensi menyebabkan kontaminasi bakteri, Tutik
menjawab singkat. “Iya,’’ ucapnya.
Baca juga : Analisis Masih Dilakukan Dinkes Blora, Walau Hasil Lab MBG SPPG Bogowanti Sudah Keluar
Tak berhenti di
situ, ruang penyimpanan ompreng juga dinilai belum sesuai SOP karena
penataannya masih terbuka.
Dapur dan ruang
pemorsian belum dilengkapi sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS).
SPPG juga belum
memiliki ruang loading khusus bahan makanan matang.
Sanitasi
Dua armada
distribusi yang digunakan memang telah dilengkapi pemantau suhu, tetapi belum
memiliki sekat dan identitas SPPG.
Masalah sanitasi
turut ditemukan pada IPAL.
Outlet belum
dilengkapi bak kontrol dan masih menimbulkan bau.
Pengoperasian IPAL
disebut hanya dilakukan saat pencucian ompreng.
Sementara sampah
masih menumpuk di samping dapur dan belum diangkut.
“Jadi masih harus
banyak perbaikan di dapur itu,” kata Tutik.
Dinkes juga menemukan
penggunaan minyak curah.
Tutik menyebut, hal
tersebut bukan ranah penilaian Dinkes. Namun, BGN tidak menganjurkan minyak
curah untuk program MBG.
“Dari BGN sendiri
tidak dianjurkan. Jadi harus yang standar atau premium,” jelasnya.
Sebelumnya,
terdapat laporan siswa yang mengalami keluhan kesehatan terus bertambah.
Hingga Selasa
(8/9), tercatat 141 orang dari tiga sekolah. Rinciannya, 137 orang dari SMA
Negeri 1 Tunjungan, termasuk satu guru.
Terdapat pula tiga
siswa SMP Al-Banjari dan satu siswa SD IT.
Baca juga : Walau SPPG Bogowanti Gunakan Minyak Goreng Bersubsidi, Kok Hanya Dihimbau
Keluhan diduga
muncul setelah siswa menyantap menu MBG pada Senin (7/9).
Karena banyak siswa mengalami keluhan, sekolah kemudian tidak membagikan menu MBG pada Selasa (8/9). (Endah/IST)
0 Comments
Post a Comment