INFOKU, BLORA - Menguak misteri tentang asal-usul orang Jawa bukan perkara mudah.
Ada berbagai versi
cerita yang memuat kisah awal mula Suku Jawa.
Sebagai informasi,
Suku Jawa merupakan suku terbesar di Indonesia. Bukan hanya tinggal di Pulau
Jawa, orang keturunan suku ini menyebar ke berbagai belahan dunia.
Dihimpun dari
berbagai sumber, Suku Jawa memiliki banyak peninggalan peradaban.
Baca juga : Mengungkap Misteri Kantor Bupati Blora, Muncul 3 Wanita Cantik Cari Suami
Hal ini diketahui
dari banyaknya kerajaan yang berdiri di Tanah Jawa.
Salah satu bangunan
bersejarah yang menjadi saksi munculnya Suku Jawa adalah Candi Borobudur dan
Prambanan.
Lantas siapakah
nenek moyang orang Jawa?
Tulisan India kuno
menyebutkan bahwa orang pertama yang menginjakkan kaki di Jawa adalah Aji Saka.
Hal inilah yang
memunculkan asumsi bahwa Aji Saka dan pengawalnya adalah nenek moyang orang
Jawa.
Legenda tentang Aji
Saka berasal dari negeri antah-berantah bernama Bumi Majeti.
Namun ada pula yang
menyebutkan Aji Saka adalah keturunan Suku Shaka dari India.
Dia digambarkan
sebagai pemuda sakti yang memiliki keris pusaka dan sorban ajaib.
Pemuda ini adalah
pribadi yang suka menolong orang yang tertindas.
Kisah paling terkenal dari Aji Saka adalah kemenangannya melawan Prabu Dewata Cengkar di Kerajaan Medang Kamulan.
Baca juga : Misteri Harta Karun di Randublatung yang Dibuang Putri Raja Cantik
Dewata Cengkar gemar
memakan daging manusia yang meresahkan penduduk sekitar.
Sebelum pergi ke Medang Kamulan, Aji Saka meninggalkan keris
pusakanya di Gunung Kendeng agar dijaga oleh pengawalnya, Sembada.
Sementara dia dan abdi lainnya, Dora, bertandang ke Medang Kamulan dan
saat itu mengaku mau dijadikan santapan.
Akan tetapi Aji Saka meminta syarat sebidang tanah sepanjang sorbannya
kepada Dewata Cengkar.
Ajaibnya, sorban tersebut terus memanjang sampai ke tepi laut selatan
saat Dewata Cengkar mengukur tanah.
Di saat itulah Aji Saka menghempaskan sorbannya sampai Dewata Cengkar
tenggelam di laut selatan.
Tapi tahukah anda
bahwa Prabu Aji Saka pernah menginjakan kaki ke Bumi Blora inilah kisahnya.
Semburan Lumpur Kesongo di Kawasan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH), Randublatung. Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, ternyata menyimpan kisah mitos yang tragis.
Menurut mitologi masyarakat
setempat, asal muasal ‘Kesongo’ erat kaitannya dengan kisah Prabu Ajisaka dan
anaknya yang berwujud naga raksasa bernama Jaka Linglung.
Kisah asal mula Gunung Lumpur
Kesongo ini bermula dari antipati Prabu Aji Saka dengan bentuk fisik dan tabiat
sang anak, Jaka Linglung, yang berwujud naga.
Ajisaka berupaya untuk mengusir
anaknya itu secara halus. Ajisaka berjanji akan menerima Jaka Linglung,
anaknya, dengan syarat Jaka Linglung berhasil menumpas siluman buaya putih yang
menebar teror di Pantai Selatan.
Di luar perkiraan,
Jaka Linglung berhasil mengalahkan siluman buaya putih dengan
membawa kepala buaya itu, yang merupakan penjelmaan Dewata Cengkar, seorang
kanibal yang dulu pernah dikalahkan oleh Aji Saka.
Telan
9 Anak
Kemudian, Jaka Linglung
diperintahkan oleh ayahnya, Aji Saka, untuk bertapa di tengah hutan dan tidak
boleh makan dan minum.
Patuh dengan perintah ayahnya,
Jaka Linglung bertapa dengan membuka mulutnya lebar-lebar, menyerupai
gua.
Selama ratusan
tahun, tubuh Jaka Linglung tidak tampak manusia
karena dipenuhi dengan lumut, semak dan tumbuhan merambat.
Saat turun hujan, 10 anak yang
sedang menggembalakan ternak berupaya mencari tempat teduh dan
berujung masuk ke mulut gua, yang merupakan mulut
dari Jaka Linglung yang bertapa.
Salah satu dari 10
anak itu punya penyakit kulit dan disuruh keluar oleh 9 anak lainnya
karena merasa jijik.
Karena 9 anak itu usil, suka
membacoki dinding gua, Jaka Lingkung yang saat itu kesakitan langsung menelan
kesembilan anak yang berteduh di mulutnya itu.
Saat itu anak yang diusir
keluar berteriak minta tolong hingga terdengar Prabu Aji
Saka.
Karena takut ayahnya marah maka
Jaka Linglung langsung masuk ke perut bumi untuk melanjutkan pertapaannya.
Baca juga : Misteri Desa Doplang Sebuah Tempat Istirahat Dampo Awang & Pasukannya
Saat itu juga muncul
semburan lumpur di area tersebut dan akhirnya tempat itu disebut
‘Kesongo’ yang dalam Bahasa Jawa berarti 9 anak.
Versi
Sejarahwan
Sementara itu, pemerhati
sejarah Blora, Eko Arifianto, dalam bukunya Sejarah Perjalanan Orang Jawa (230
SM-1292 M), diceritakan ada seorang tokoh bijaksana di tahun 725 M dari
Medangkamulya, bernama Han Sanjaya, putra dari Sanaha dan Salahu.
Pamannya yang bernama
Sana, baru saja didapuk menjadi Datuk di Kerajaan Tarumanegara.
Namun tiba-tiba, Sana meninggal
dunia secara tiba-tiba.
Meninggalnya Sana ini
diketahui karena konspirasi perang kekuasaan di Kerajaan Galuh di
mana Pangeran dari Tarumanegara ingin merebut takhta dari tangan
Sana
Singkatnya, mayat
Sana dibawa ke Blora namun dalam perjalanan, kakak dari Sana, yaitu Sanaha
mengetahui akal picik dari pangeran itu dan menjadi murka.
Sana memerintahkan untuk
membunuh 9 pengikut Sana karena dianggap tidak bisa melindungi adiknya.
Baca juga : Misteri Dua Anjing Gaib Sering Goda Pejalan Kaki
Dari situlah kisah Gunung Lumpur Kesongo versi sejarahwan, nama ‘Kesongo’ diambil dari 9 orang yang dibunuh secara tragis.
Ini hanya cerita rakyat yang sulit dibuktikan kebenarannya, mana yang benar niscaya akan seiring waktu berjalan.(Roes/ diolah dari berbagai sumber)


0 Comments
Post a Comment