Misteri Asal Usul Desa Tutup di Blora, Pohon Langka & Tempat Persembunyian Raden dari kraton Jogjakarta

INFOKU, BLORASebuah desa di kabupaten Blora tepatnya di Kecamatan Tunjungan menyuguhkan keunikan nama yang menarik perhatian publik, yaitu Desa Tutup. 

Lokasi ini hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari pusat Kota Blora dan berbatasan dengan lima desa lain.

Desa Tutup membawahi beberapa dukuh penting, termasuk Dukuh Tutup, Ngetrep, dan Sukorame.

Kisah di balik penamaannya ternyata menyimpan dua narasi utama yang saling melengkapi, menurut penuturan sejarawan setempat.

Baca juga : Misteri Harta Karun di Randublatung yang Dibuang Putri Raja Cantik

Versi pertama penamaan desa ini erat kaitannya dengan flora lokal yang kini populasinya semakin menipis.

Dalhar Muhammadun atau akrab disapa Madun, menjelaskan bahwa nama tersebut berasal dari pohon trutup yang dahulu melimpah di kawasan tersebut.

Pohon trutup memiliki kemiripan dengan kayu along atau dikenal juga sebagai pohon tutup beling di daerah lain.

Tumbuhan keras ini memiliki ciri khas daun berbentuk hati dengan tepi bergerigi dan menghasilkan buah bulat kecil yang sering dimanfaatkan warga sebagai pembatas tanah.

Pohon trutup ini dulunya sering kita temui di desa sini.

Biasanya di belakang rumah, ada juga yang memanfaatkan pohon trutup sebagai pembatas tanah.

Buah pohon trutup merupakan makanan favorit bagi burung terucukan.

Selain itu, bagian daunnya dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati penyakit kulit seperti panu atau kadas, bahkan nama penyakit kulit tersebut juga disebut 'trutup'.

Baca juga : Mengungkap Misteri Kantor Bupati Blora, Muncul 3 Wanita Cantik Cari Suami

Versi kedua, yang lebih bernuansa sejarah perjuangan, mengaitkan nama desa dengan peristiwa persembunyian pasukan Pangeran Diponegoro dari kejaran Belanda sekitar tahun 1830.

Tokoh sentral dalam narasi ini adalah Raden Ngabehi Honggowijoyo, yang dikenal sebagai Mbah Datuk.

Mbah Datuk merupakan salah satu pejuang Diponegoro yang memilih wilayah ini sebagai tempat berlindung.

Saat melarikan diri, Mbah Datuk dilaporkan beristirahat dan bermeditasi di bawah pohon trutup yang banyak tumbuh di area tersebut, memperkuat kaitan antara nama desa dengan flora lokal dan peristiwa historis tersebut.

Saa5t mbah Datuk pas masuk di Desa Tutup itu istirahatnya atau semedi di bawah pohon trutup.

Kata 'Tutup' kemudian dimaknai sebagai strategi pertahanan diri, yaitu upaya menyembunyikan identitas dan aktivitas dari pengawasan musuh.

Hal ini menunjukkan fungsi strategis desa tersebut pada masa peperangan.

Baca juga : “Ajisaka” Misteri Lumpur Kasongo antara Mitos & Cerita Sejarah

Kenapa menjadi Desa Tutup. Bahwa desa setempat itu tempat pelarian, tempat persembunyian pasukan Diponegoro.

Maka desa situ memang tertutup, memproteksi diri, menutup diri.

Menutup diri dari pengawasan orang luar, kehadiran orang luar termasuk pasukan musuh.

Perkembangan Jaman menyatakan bahwa 'Tutup' merupakan evolusi pengucapan dari 'Trutup' seiring pergeseran dialek masyarakat Jawa. (Roes/ diolah dari berbagai sumber


Post a Comment

0 Comments