INFOKU, BLORA
- Siswa SMPN 1 Blora jadi korban perundungan, alami luka di bibir.
Salah satu pelaku diduga anak anggota DPRD Blora.
Tokoh masyarakat
Blora, Danu Sukoco pada pers menyebut dugaan perundungan tersebut terjadi dua
kali, yakni pada Jumat dan Sabtu di awal Agustus 2026.
Menurut Danu,
sebelum kejadian pemukulan, korban sempat mengalami peristiwa yang membuatnya
merasa menjadi sasaran kejahilan teman-temannya.
Korban disebut
pernah dijebak menggunakan gayung berisi air yang diletakkan di atas pintu.
Baca juga : Siswa SMPN di Blora di Bullying di Kamar Mandi, 33 Siswa Dipanggil Polisi
Merasa diperlakukan
demikian, korban kemudian melakukan hal serupa.
Namun, korban
disebut tidak mengetahui siapa yang akhirnya terkena jebakan tersebut.
"Setelah itu
pada hari Jumat korban dipukuli. Besoknya lagi dicari temannya, kemudian
dipukuli dan ditendang lagi," ujar Danu.
Danu menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, salah satu siswa yang diduga terlibat disebut-sebut sebagai ketua kelompok atau geng di lingkungan sekolah.
Akibat kejadian
tersebut, korban mengalami luka dan memar. Bibir korban bahkan disebut harus
mendapatkan jahitan.
Korban kemudian
dibawa ke Rumah Sakit DKT untuk mendapatkan perawatan dan obat-obatan.
Danu menyesalkan
dugaan kurangnya pengawasan di lingkungan sekolah.
Terlebih, kejadian
tersebut disebut berlangsung lebih dari sekali.
"Kalau anak
sekolah bertengkar apakah kemudian dimaklumi? Sekolah seharusnya bisa
mengawasi. Guru, keamanan, kepala sekolah maupun guru BK harus mengetahui
gelagat dan kondisi anak-anak," tegasnya.
Dia juga menyoroti
respons salah satu orang tua siswa yang disebut merupakan anggota DPRD, orang
tua tersebut sempat menganggap persoalan sebagai pertengkaran biasa antarsiswa.
Danu menilai,
posisi sebagai anggota dewan semestinya membuat orang tua memberikan contoh
dalam menyikapi persoalan yang melibatkan anak-anak.
"Yang kami
sayangkan, ketika kejadian pertama terjadi, sekolah harusnya tahu. Apalagi
kejadian penganiayaan disebut kembali terjadi keesokan harinya. Pengawasannya
bagaimana?" ujarnya.
Baca juga : Pelaku dan Provokator Diminta Pindah Sekolah pada Kasus Perundungan Siswa SMP di Blora
Danu berharap
persoalan tersebut menjadi evaluasi terhadap sistem pengawasan dan pencegahan
perundungan di sekolah.
Kasus tersebut juga
telah dilaporkan ke Polres Blora.
Sementara itu,
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora Sunaryo membenarkan, adanya siswa yang
dipukul oleh teman sekolahnya.
Pihaknya meminta
sekolah mendalami kronologi secara utuh dan mengedepankan pendekatan terhadap
kedua pihak.
"Kemarin saya
minta bapak ibu guru hadir ke rumah korban, bertemu orang tua untuk
menyampaikan kronologi kasus yang sebenarnya agar informasinya seimbang,"
jelasnya pada pers.
Dinas Pendidikan
bersama Dinas Sosial juga telah mendatangi rumah korban.
Pihaknya turut
berkoordinasi dengan sekolah dan siswa yang diduga terlibat untuk mencegah kejadian
serupa terulang.
Sunaryo mengatakan
pihaknya tetap memantau laporan yang telah masuk ke Polres Blora.
Jika proses hukum
membutuhkan kehadiran anak-anak, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan
pihak sekolah.
"Ini usia
anak, jadi harus hati-hati agar tidak menimbulkan trauma. Kami berharap
persoalan ini tidak berlanjut ke jalur hukum jika masih bisa diselesaikan
secara kekeluargaan," ujarnya.
Menurut Sunaryo,
sekolah telah dibekali program budaya sekolah aman dan nyaman melalui kelompok
kerja (Pokja). Namun, kasus perundungan masih menjadi tantangan di dunia
pendidikan.
Baca juga : Anaknya Korban Bullying, Keluarga Siswa SMP Minta Perlindungan Polisi
"Guru harus
ekstra hati-hati. Banyak faktor yang memengaruhi anak sekarang, termasuk dunia
digital. Pengawasan harus lebih ditingkatkan," tegasnya.
Terkait jumlah
siswa yang terlibat, Sunaryo mengaku belum mengetahui secara pasti.
Namun, beberapa
siswa telah mengakui melakukan pemukulan dan penendangan.
"Kami akan
terus memantau agar persoalan ini tidak mengganggu proses belajar
mengajar," pungkasnya.
Sebagaaai informasi
sebelumya peristiwa perundungan juga terjadi pada November 2025 di kamar mandi
sekolah saat jam istirahat.
Kasus itu kini kembali menjadi perhatian setelah dilaporkan ke Polres Blora. (Endah/IST)


0 Comments
Post a Comment