300 Hektare Lahan di Kabupaten Blora Terancam Gagal Panen, Dampak Embung yang Mengering

INFOKU, BLORA Saat ini ancaman gagal panen membayangi para petani di Kabupaten Blora. 

Ini disebabkan, surut dan mengeringnya air embung.

Sehingga sedikitnya 300 hektare sawah di wilayah Kecamatan Blora terancam gagal pada musim tanam ketiga (MT III) kali ini.

Kondisi tersebut diperparah dengan memprihatinkannya infrastruktur penampung air.

Baca juga : Infrastruktur Pengendali Banjir Blora Kota, Andalkan Embung Karangjati

Dari data sekitar 78 embung yang tersebar di Kabupaten Blora, separuh diantaranya kini berada dalam kondisi kritis akibat pendangkalan mendalam.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Blora Surat mengatakan, Bendung Gabus menjadi salah satu infrastruktur irigasi yang berperan penting dalam mendukung pengairan lahan pertanian di wilayah Kecamatan Blora.

“Jaringan tersebut membentang mulai dari Kelurahan Jetis hingga Desa Buluroto dan sekitar sawah tersebut merupakan jalur vital bagi petani,"ungkapnya pada pers.

Baca juga : Permintaan Bantuan Air Bersih Bertambah, 188 Desa di Blora Dilanda Kekeringan

Namun, memasuki musim kemarau dan MT III, debit air mengalami penurunan.

Akibatnya, distribusi air ke lahan pertanian tidak lagi dapat dilakukan secara maksimal.

“Dampak kekeringan, di musim ketiga (MT III) ini pemenuhan kebutuhan air irigasi tidak bisa terpenuhi dan terlayani dengan baik,” jelasnya.

Persoalan kekeringan tidak hanya terjadi pada jaringan irigasi sungai.

DPUPR Blora juga mencatat kondisi puluhan embung di wilayah tersebut membutuhkan perhatian serius.

Surat menyebut, dari sekitar 78 embung yang ada di Kabupaten Blora, diperkirakan sekitar 50 persen berada dalam kondisi kritis.

Salah satu penyebab utamanya adalah pendangkalan akibat sedimentasi yang terbawa aliran air ketika musim hujan.

“Dari sekitar 78 embung yang tersebar di berbagai wilayah, diperkirakan sekitar 50 persen berada dalam kondisi kritis,” ungkapnya.

Baca juga : Kapolres Blora “Jajah Desa Milang Kori” Cari Sumber Mata Air

Menurutnya, pemerintah daerah terus berupaya melakukan penanganan melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana maupun BBWS Bengawan Solo.

“Setiap tahun kami tetap mengupayakan kolaborasi dan kerja sama melalui BBWS Pemali Juana dan BBWS Bengawan Solo agar dapat mengantisipasi kondisi ini,” tandasnya. (Endah/IST


Post a Comment

0 Comments