INFOKU, BLORA – Setelah beberapa waktu sempat diadakan perbaikan, namun bahu jalan di jalur utama Blora–Randublatung akhirnya kembali ambles.
Titiknya berada di
Desa Sidomulyo, Kecamatan Banjarejo, tepat di kawasan tikungan yang setiap hari
dilintasi kendaraan berat dan bus.
Kerusakan tersebut
bukan kali pertama terjadi.
Penanganan darurat yang sebelumnya dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Blora belum mampu membuat titik tersebut benar-benar aman. Bahu jalan kembali tergerus dan ambles.
Baca juga : Hati-hati Bahu Jalan Randublatung-Getas Ambrol Akibat Longsor
Kini, DPUPR Blora
memastikan penanganan permanen disiapkan melalui APBD Perubahan (APBD-P) 2026.
Kepala Bidang Bina
Marga DPUPR Blora Danang mengatakan, survei dan pemetaan telah dilakukan untuk
menentukan kebutuhan penanganan di lokasi.
Dari hasil
pengecekan, kerusakan awal memiliki panjang sekitar 19 meter dengan kedalaman
mencapai tiga meter.
“Sudah kita lakukan
survei dan pemetaan. Akan ditangani permanen pada APBD-P tahun ini,” ujarnya pada
pers.
Danang menjelaskan,
kerusakan dipicu derasnya hujan yang menyebabkan debit air meningkat.
Aliran air kemudian
menggerus tanah di sisi jalan hingga membuat bahu jalan kehilangan penyangga
dan ambles.
Sebelumnya, DPUPR
telah melakukan penanganan sementara. Diantaranya memasang turap kayu, menguruk
material, serta menata lahan di sisi jalan.
Namun, titik tersebut kembali mengalami kerusakan.
Baca juga : “Bronjong” Dipasang pada Tepi Sungai di Desa Gadon agar Longsor Lagi
“Sudah kita tangani
sementara, tetapi sempat ambles lagi. Kita pasang kembali rambu lalu lintas
agar tidak membahayakan,” jelasnya.
Dia
menjelaskan, kerusakan itu merupakan
lanjutan longsor yang terjadi sekitar akhir Maret lalu.
Saat itu, bahu
jalan ambles sepanjang 19 meter dengan kedalaman tiga meter.
Penanganan darurat
dilakukan untuk menjaga jalur tetap dapat dilalui.
“Namun, kondisi
terkini menunjukkan titik tersebut kembali rawan. Longsoran baru tercatat
sekitar lima meter dengan kedalaman kurang lebih 50 sentimeter,” ujarnya.
Danang juga mengatakan,
kerusakan berada di tikungan dengan lebar jalan yang terbatas. Terlebih, jalur
tersebut juga merupakan akses utama yang setiap hari dilintasi kendaraan berat
dan bus.
Kondisi ini membuat
bahu jalan yang kembali ambles menjadi perhatian, terutama ketika kendaraan
harus berpapasan.
“Selain bahu jalan yang ambles, kondisi badan jalan yang relatif sempit dan minim penerangan juga menjadi persoalan di jalur tersebut,” ujarnya.
Baca juga : Warga Jepon Was-was Dampak Longsor di Bibir Hulu Sungai Lusi Meluas
Dengan penanganan permanen yang direncanakan melalui APBD-P, perbaikan diharapkan tidak lagi sebatas menutup atau mengamankan titik longsor sementara. Sebab, kerusakan telah berulang setelah sebelumnya mendapat penanganan darurat,” imbuhnya. (Endah/IST)


0 Comments
Post a Comment