INFOKU, BLORA – Dampak kenaikan harga aspal dan BBM nonsubsidi dinilai akan berpotensi mengganggu pelaksanaan proyek konstruksi di Kabupaten Blora.
DPRD meminta Pemkab
segera melakukan evaluasi agar dampaknya tidak meluas.
Ketua Komisi C DPRD Blora Mukhlisin mengatakan, lonjakan harga material harus direspons cepat melalui penyesuaian harga satuan proyek.
Baca juga : Kontraktor Proyek Wilayah Blora Kelabakan, Imbas Melonjaknya Harga Aspal
“Harus segera ada
koordinasi dan evaluasi penyesuaian harga satuan, supaya anggaran dan program
bisa menyesuaikan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi
ini berisiko membebani kontraktor sekaligus menghambat program prioritas, terutama
pembangunan infrastruktur.
Apalagi, fiskal
daerah sedang tertekan akibat pemotongan Transfer ke Daerah (TKD).
Dia mengingatkan,
tanpa langkah antisipatif, kenaikan harga material bisa berdampak pada kualitas
pekerjaan di lapangan.
Baca juga : Kasus Dugaan Perusakan Jalan Agus Palon Tahap Pelimpahan Berkas ke Kejari
“Kalau tidak
disikapi dengan benar, bisa berpengaruh pada mutu proyek, baik jalan maupun konstruksi
lainnya,” tegasnya.
Kondisi ini dinilai
menambah tekanan biaya konstruksi di lapangan.
“Kami berharap
Pemkab Blora segera merumuskan langkah penyesuaian agar proyek tetap berjalan
dan tidak merugikan masyarakat,” tutupnya.
Untuk diketahui,
data Pertamina Patra Niaga menunjukkan harga aspal per awal April 2026 naik
sekitar 20 persen. Aspal curah dari Rp 9.400 per kilogram menjadi Rp 11.565 per
kilogram.
Sementara aspal
drum naik dari Rp 11.600 menjadi sekitar Rp 13.600 per kilogram, belum termasuk
pajak dan biaya distribusi.
Di sisi lain, PT
Pertamina (Persero) juga menaikkan harga BBM nonsubsidi per 18 April.
Pertamax Turbo melonjak dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter, Dexlite dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp 14.500 menjadi Rp 23.900 per liter. (Endah/IST)


0 Comments
Post a Comment