INFOKU, BLORA - Semangat pelestarian lingkungan menggema di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora pada Jumat (24/4/2026).
Sekretaris Daerah (Sekda) Blora, Komang Gede Irawadi, bersama jajaran Forkopimda menyambut kedatangan tiga bersaudara pendiri Sungai Watch asal Prancis : Gary, Sam, dan Kelly Bencheghib.
Kedatangan mereka di Blora merupakan bagian dari aksi "Run
River", sebuah misi lari jarak jauh untuk mengampanyekan kebersihan sungai
di Indonesia.
Blora menjadi titik singgah spesial setelah sebelumnya mereka menggelar aksi serupa di wilayah Kecamatan Cepu.
Baca juga : Peringati Hari Kartini dan HKG PKK ke-54, Ribuan Ikan Dilepas, Ratusan Pohon Ditanam
“Ini adalah hari ke-27 perjalanan kami. Meski kaki terasa berat setelah
menempuh jarak 600 kilometer sejak dari Bali hingga ke Blora, semangat kami
kembali membara melihat antusiasme luar biasa dari warga Jawa Tengah, khususnya
di Blora," ujar Sam Bencheghib penuh haru.
Tiga bersaudara asal Prancis yang telah lama menetap di Indonesia ini
disambut dengan kemeriahan budaya lokal.
Di Pendopo, mereka disuguhi penampilan gagah Seni Barongan serta menikmati
kelezatan kuliner khas Blora, yakni Pecel dan Sate Ayam yang melegenda.
Sekda Blora Komang Gede Irawadi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya
atas dedikasi Sungai Watch.
Dia berharap aksi nyata ini menjadi tamparan sekaligus motivasi bagi masyarakat lokal.
“Kami ucapkan banyak terima kasih atas kehadiran Mister Gary, Sam, dan
Kelly Bencheghib yang datang kesini, saya mohon maaf Pak Bupati sedang dalam
perjalanan, mudah-mudahan nanti bisa bergabung. Jadi ini memberikan wawasan
untuk kita semua, bahwa kita harus menjaga lingkungan, terutama sungai,” kata
Sekda Blora Komang Gede Irawadi.
Menurutnya, pendiri Sungai Watch asal Prancis yang sudah lama tinggal di
Bali, menyampaikan bahwa kita punya Sungai Bengawan Solo yang lagunya indah dan
kita harus jaga. Itu adalah sumber kehidupan masyarakat.
Baca juga : Percepat Pendataan Kemiskinan Berbasis Desa, Pemkab Blora Kerahkan 11.000 ASN
“Untuk itu, nanti perlu ada edukasi untk masyarakat dan sebagainya,
sehingga bisa menjaga lingkungan kita terutama sungai. Beliau itu lari dari
Jimbaran (Bali) sampai di Blora, sudah 12 Kabupaten/Kota yang dilalui. Blora
adalah kabupaten pertama di Jawa Tengah, sehingga beliau mengatakan, harus kita
jaga lingkungan kita termasuk sungai, termasuk anak-anak kecil sampai dengan
tua. Kami sampaikan terima kasih, dan mudah-mdahan nanti bisa kita tindak
lanjuti, tidak hanya ini saja, bisa kita tindak lanjuti untuk masyarakat kita.
Kemudian saya ucapkan terima kasih untuk Radar Kudus yang sudah mengawal
kegiatan ini dengan baik, dan saya mohon juga sosialisasi juga kepada masyarakat,”
terang Sekda Blora.
Pemerintah Kabupaten Blora sangat mengapresiasi langkah Gary dan tim.
Apa yang mereka lakukan diharapkan bisa menginspirasi kita semua untuk
lebih peduli pada lingkungan, terutama untuk tidak lagi membuang sampah ke
sungai.
Acara penyambutan ini juga dihadiri oleh sejumlah Pimpinan Organisasi
Perangkat Daerah (DPUPR/Bapperida/DLH) dan Forum Kabupaten/Kota Sehat pengurus
(FKKS) Blora, yang berkomitmen untuk terus menyinergikan program kesehatan
lingkungan dengan aksi-aksi sosial serupa demi mewujudkan Blora yang lebih
bersih dan sehat.
Kepala DLH Blora, Istadi Rusmanto, yang turut mengawal aksi ini, merasa
tergerak oleh dedikasi ketiga aktivis tersebut. Dukungan penuh pun diberikan,
mulai dari pengawalan hingga koordinasi rute selanjutnya menuju Randublatung
dan Grobogan pada Sabtu (25/4/2026)
Aksi “Run River” mengingatkan kita semua bahwa perubahan besar seringkali
dimulai dari langkah kaki yang sederhana.
Gary, Sam, dan Kelly tidak hanya membawa pesan tentang kebersihan, tapi
mereka membawa cinta yang lari melintasi pulau demi aliran air yang lebih
jernih untuk anak cucu kita.
Membawa misi bertajuk “Run River”, kakak beradik pendiri Sungai Watch ini
sedang menempuh perjalanan luar biasa: berlari 1.200 kilometer dari Bali menuju
Jakarta.
Sampah Laut
Bagi mereka, berlari sejauh 25-30 kilometer setiap hari bukan sekadar soal
fisik.
“Kalau naik kendaraan, kita hanya lewat. Tapi dengan berlari, kami bisa
berhenti, menatap mata warga, berbicara, dan berbagi keresahan tentang sungai
kita,” ujar Gary dengan nada tulus.
Keprihatinan mereka berakar pada kenyataan pahit, 80 persen sampah di laut
berasal dari sungai yang tak terawat.
Namun, di Cepu, aksi mereka berubah menjadi pesta kolaborasi yang
menyentuh.
Tidak hanya sekadar orasi, mereka terjun langsung memunguti sampah di
Sungai Megal dan menanam bibit pohon di Embung Lebok.
Suasana haru sekaligus penuh semangat terlihat saat ibu-ibu PKK dan
komunitas lokal bahu-membahu bersama trio Prancis ini.
Sebanyak 100 bibit pohon disiapkan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
bersama PUPR untuk mendukung kegiatan tersebut.
Bibit yang ditanam terdiri dari ketapang kencana, mangga Thailand, alpukat aligator, matoa, dan nangka, masing-masing sebanyak 20 batang.
Baca juga : IPAL Bermasalah, Wabup Instruksikan Operasional Dapur SPPG Bogowanti Berhenti Sementara
Sam, yang akrab disapa Samsudin oleh rekan-rekan lokalnya, bercerita bahwa
ini adalah hari ke-27 perjalanan mereka.
Meski kaki mungkin terasa berat setelah menempuh 600 kilometer sejak dari Bali hingga Blora, semangat mereka justru kian membara saat melihat antusiasme warga Jawa Tengah.
“Indonesia sudah menjadi rumah kami. Menjaga sungai-sungainya adalah tanggung jawab kami juga, bukan cuma pemerintah,” ucap Sam lirih namun tegas. (Setyorini/KOM)



0 Comments
Post a Comment