Sebanyak 22 Desa di Todanan Blora Diserang Hama Tikus

INFOKU, BLORASunguh tragis esrangan hama tikus di Kecamatan Todanan semakin mengkhawatirkan. 

Tak hanya padi, hama tersebut juga menyerang jagung, tebu, timun, tomat hingga cabai.

Akibatnya, sebagian petani memilih tidak menanami sawahnya karena khawatir kembali merugi.

Baca juga : 300 Hektare Lahan di Kabupaten Blora Terancam Gagal Panen, Dampak Embung yang Mengering

Sedikitnya 22 dari 25 desa di Todanan terdampak serangan hewan pengerat tersebut. Tiga desa yang sempat relatif aman, yakni Dringo, Gunungan dan Kajengan, kini juga mulai ditemukan serangan.

Petani Desa Karanganyar, Saifuddin mengatakan, serangan mulai dirasakan sejak akhir 2024.

Namun, populasinya semakin parah hingga membuat tanaman gagal panen.

Sekarang tidak ada tanaman. Tahun lalu ada yang menanam, tetapi habis. Tebu tidak bisa panen, padi juga begitu,” ujarnya pada pers.

Menurutnya, tikus menyerang tanaman sejak masih berupa benih. Pada padi, batang digerogoti hingga roboh.

Sedangkan jagung dimakan sejak kecil hingga menyisakan bonggol ketika sudah berbuah. Tebu pun digerogoti dari bagian bawah hingga roboh.

Baca juga : Permintaan Bantuan Air Bersih Bertambah, 188 Desa di Blora Dilanda Kekeringan

“Berbagai upaya sudah kami lakukan. Mulai racun tikus, gropyokan, pagar plastik, berjaga malam, hingga membuat rumah burung hantu. Namun, hasilnya belum maksimal,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, karena masalah ini, beberapa petani mulai mencari pekerjaan lain.

Sebagian menjadi kuli pasir dan buruh kasar. Bahkan, warga, termasuk anak muda lulusan SMK, memilih merantau ke Sumatera dan Kalimantan untuk bekerja di sektor pertambangan.

“Sudah dua tahun ada tanduran (tanaman, red) tapi tidak panen. Tidak menutup modal awal, diganggu tikus, belum lagi modal pupuk,” kata Arif.

Ditempat terpisah Kepala DP4 Blora Ngaliman membenarkan peningkatan populasi tikus di Todanan.

Menurutnya, kondisi musim hujan yang mendukung aktivitas tanam membuat sumber makanan tikus tersedia sepanjang tahun.

“Musim hujan kemarin bagus untuk menanam. Sehingga tikus beranak terus karena tersedia pangan,” jelasnya.

Dia mengakui, pihaknya telah melakukan pengendalian bersama kelompok tani dan menyiapkan pestisida.

“Selain itu, rumah burung hantu dikembangkan sebagai pengendalian jangka panjang,” singkatnya.

Baca juga : Kapolres Blora “Jajah Desa Milang Kori” Cari Sumber Mata Air

Koordinator Penyuluh Pertanian Todanan Heri menduga, tikus bermigrasi dari kawasan hutan menuju persawahan karena berkurangnya sumber makanan.

Saat kemarau, tikus cenderung berkumpul di sekitar sumber air.

“Jagung habis dari hutan kelihatannya mereka migrasi ke sawah. Itu yang membuat serangannya masif,” pungkasnya. (Endah/IST


Post a Comment

0 Comments