INFOKU, BLORA – Saat ini kabupaten Blora dikenal sebagai lumbung sapi di Jawa Tengah.
Namun, capaian terbaru menunjukkan bahwa potensi daerah ini jauh melampaui
sekadar sentra peternakan.
Dengan populasi sapi potong mencapai 172.920 ekor pada 2025, tertinggi di Jawa Tengah, Blora memiliki modal yang sangat kuat untuk berkembang menjadi pusat industri pengolahan daging sapi di Indonesia.
Baca juga : Memajukan Sektor Peternakan Sapi upaya Serius Pemkab Blora
Potensi tersebut tidak hanya tercermin dari besarnya populasi ternak,
tetapi juga diperkuat oleh hasil penelitian Agus Maulana, dosen Sekolah Bisnis
Institut Pertanian Bogor (IPB), yang menilai Blora sangat prospektif bagi
investasi industri berbasis daging sapi.
Ketersediaan bahan baku yang melimpah, pengalaman masyarakat dalam
beternak, hingga dukungan sektor pertanian menjadi fondasi yang sulit
ditandingi daerah lain.
Sayangnya, hingga kini keunggulan tersebut belum sepenuhnya dikapitalisasi.
Sebagian besar sapi dari Blora masih dipasarkan dalam bentuk ternak hidup
ke berbagai kota.
Nilai tambah dari pemotongan, pengemasan, pengolahan, distribusi hingga
pemasaran produk olahan justru dinikmati daerah lain yang telah memiliki
industri hilir.
Padahal, hilirisasi ternak sapi atau industri berbasis daging sapi memiliki
rantai ekonomi yang sangat panjang. Kehadiran rumah potong hewan modern,
fasilitas cold storage, industri pengolahan daging beku, pabrik bakso, sosis,
abon, kornet hingga makanan siap saji akan menciptakan multiplier effect yang
besar.
Bukan hanya meningkatkan harga jual sapi, tetapi juga membuka ribuan
lapangan kerja, memperkuat UMKM, menggerakkan sektor logistik, perdagangan,
hingga meningkatkan pendapatan asli daerah.
Momentum inilah yang seharusnya ditangkap Pemerintah Kabupaten Blora.
Baca juga : Blora Ingin Wujudkan Daerah Setra Sapi Indonesia
Keunggulan populasi sapi harus dijadikan selling point utama dalam
menawarkan peluang investasi kepada pelaku usaha nasional maupun internasional.
Investor tidak hanya mencari ketersediaan bahan baku, tetapi juga kepastian
regulasi, kemudahan perizinan, infrastruktur, dan komitmen pemerintah daerah.
Karena itu, Pemkab Blora perlu menyusun peta jalan pengembangan industri peternakan
secara terintegrasi.
Kolaborasi Bersama
Promosi investasi tidak cukup dilakukan melalui forum bisnis semata, tetapi
juga harus disertai penyediaan kawasan industri agro, insentif investasi, percepatan
perizinan, kemitraan dengan peternak rakyat, hingga jaminan pasokan ternak yang
berkelanjutan.
Di sisi lain, DPRD, kalangan akademisi, asosiasi peternak, perbankan,
perguruan tinggi, BUMN, dan dunia usaha perlu duduk bersama membangun ekosistem
investasi yang sehat.
Kolaborasi menjadi kunci agar Blora tidak kehilangan momentum ketika
kebutuhan daging nasional terus meningkat dan pemerintah mendorong penguatan
produksi dalam negeri.
Blora juga memiliki keuntungan geografis yang strategis karena berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga berpotensi menjadi pusat distribusi produk daging untuk berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Baca juga : Pengembangan Agribisnis Peternakan Sapi di Blora Diminati IPB
Ditambah ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan ternak dan budaya
beternak yang telah mengakar, daerah ini memiliki ekosistem yang relatif
lengkap dibanding banyak kabupaten lainnya
Kini tantangannya bukan lagi bagaimana memperbanyak populasi sapi.
Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengubah sapi menjadi industri,
industri menjadi lapangan kerja, dan lapangan kerja menjadi kesejahteraan
masyarakat.
Blora tidak boleh selamanya hanya menjadi daerah penghasil sapi hidup.
Sudah saatnya pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan bergerak lebih agresif memburu investasi industri berbasis daging sapi. (Endah/IST)


0 Comments
Post a Comment