INFOKU, BLORA – Setelah beberapa bulan tidak beroperasinya PT Gendhis Multi Manis (GMM) akibat kerusakan boiler, terus memicu keresahan petani tebu di Kabupaten Blora.
Kondisi itu membuat
Paguyuban Petani Tebu Blora mengadu ke DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan,
Jakarta.
Dalam audiensi
tersebut, petani menyampaikan dampak luas berhentinya produksi pabrik gula,
yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Tidak hanya petani, buruh angkut, sopir, pekerja pabrik hingga pedagang kecil turut merasakan dampaknya.
Baca juga : Aksi Demo Petani Blora, Tumpahkan Tebu di Depan PT GMM
Aspirasi petani
diterima Anggota Komisi IV DPR RI, Rina Sa’adah.
Dia menyatakan siap
mengawal persoalan tersebut melalui mekanisme pengawasan DPR RI.
Salah satunya
dengan mendorong pembahasan dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Kementerian
Pertanian dan Perum Bulog.
Menurutnya,
persoalan yang terjadi di PT GMM tidak lagi sekadar gangguan teknis perusahaan,
melainkan telah berdampak pada perekonomian masyarakat.
“Petani telah
bekerja keras sejak masa tanam hingga panen. Negara tidak boleh membiarkan
mereka menghadapi ketidakpastian sendirian,” ujarnya.
Dukungan juga
datang dari sejumlah anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan. Mereka menilai, persoalan
PT GMM telah berkembang menjadi persoalan ekonomi rakyat, yang perlu segera
mendapat perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan sektor pergulaan
nasional.
Koordinator
audiensi petani tebu Blora, Exi Wijaya menjelaskan, sektor pergulaan selama ini
menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah, dengan perputaran uang
mencapai sekitar Rp 500 miliar.
Terhentinya
operasional PT GMM memaksa petani mengirim tebu ke pabrik di luar daerah,
dengan biaya distribusi lebih tinggi serta risiko turunnya rendemen.
“Ketika pabrik
berhenti, yang lumpuh bukan hanya mesin produksi, tetapi juga roda ekonomi
masyarakat,” tegasnya.
Sebagai tindak
lanjut, Paguyuban Petani Tebu Blora meminta DPR RI segera menggelar Rapat
Dengar Pendapat Umum (RDPU), dengan menghadirkan petani, PT GMM, Perum Bulog,
Kementerian Pertanian, serta pihak terkait lainnya.
Mereka juga
mendesak adanya inspeksi lapangan ke pabrik untuk melihat langsung kondisi yang
terjadi.
Ketua Paguyuban
Petani Tebu Blora, Anton Sudibyo menegaskan, petani membutuhkan langkah
konkret, bukan sekadar ruang menyampaikan aspirasi.
Menurutnya,
pemerintah perlu mempertimbangkan subsidi transportasi dan subsidi harga gula
untuk meringankan beban petani selama pabrik belum beroperasi normal.
Baca juga : Pasca Demo Petani Tebu Blora, Dirut Bulog Janji Rombak PG GMM dan Serap Tebu Rakyat
“Jangan sampai petani menjadi pihak yang menanggung seluruh dampak dari persoalan yang bukan mereka sebabkan,” tandasnya. (Endah/IST)


0 Comments
Post a Comment