INFOKU, BLORA – Alokasi program Bantuan Perumahan Berbasis Swadaya (BPBS) di Kabupaten Blora mulai bergulir.
Tahun ini, sebanyak
1.450 rumah warga masuk dalam tahap pertama penerima bantuan yang bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sekretaris Dinas
Perumahan, Permukiman, dan Perhubungan Kabupaten Blora Denny Adhiharta Setiawan
mengatakan, selain alokasi tahap pertama, pemerintah juga masih menyiapkan
tambahan kuota pada tahap kedua sebanyak 433 unit rumah.
Baca juga : Menteri ATR BPN Restui Proyek Sekolah Rakyat dan Kampus UNY di Blora, Disini Tempatnya
“Untuk tahap
pertama total ada 1.450 penerima. Nanti masih ada tambahan tahap kedua sebanyak
433 unit,” ujarnya.
Dari seluruh
kecamatan di Kabupaten Blora, Kecamatan Ngawen menjadi wilayah dengan jumlah
penerima bantuan terbanyak.
Tercatat sekitar
500 rumah warga di kecamatan tersebut masuk daftar penerima BPBS.
Sementara Kecamatan
Bogorejo tidak memperoleh alokasi bantuan pada tahun ini.
Denny menjelaskan,
setiap penerima memperoleh bantuan senilai Rp20 juta.
Namun, bantuan
tersebut tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan disalurkan dalam
bentuk material bangunan dan biaya tenaga kerja.
Dikerjakan
Kelompok Desa
Rinciannya, sebesar Rp17,5 juta dialokasikan untuk kebutuhan material bangunan, sedangkan Rp2,5 juta lainnya digunakan untuk biaya pekerja atau tukang.
Baca juga : Sekolah Rakyat Blora Tetap Diminta Buka Pendaftaran, Walau Belum Ada Tambahan Gedung
Pelaksanaan program
nantinya dilakukan secara berkelompok.
Di setiap desa akan
dibentuk ketua kelompok yang bertugas mengoordinasikan kebutuhan material
maupun proses pengerjaan rumah penerima bantuan.
Ketua kelompok
tersebut juga akan bekerja sama dengan toko bangunan setempat untuk memenuhi
kebutuhan renovasi rumah warga.
Menurut Denny, pola
itu dipilih agar penerima bantuan, terutama warga lanjut usia, tidak mengalami
kesulitan dalam proses pembelian material.
“Karena banyak
penerima merupakan lansia dan ibu-ibu. Tidak mungkin harus bolak-balik membeli
paku atau kayu sendiri. Jadi semuanya dikoordinasikan oleh ketua kelompok,”
jelasnya.
Saat ini, pihaknya
masih menghadapi kendala terkait ketersediaan tenaga pendamping dari
kementerian.
Nantinya para
pendamping akan berkoordinasi langsung dengan pemerintah desa dan kepala desa
masing-masing.
Baca juga : Koperasi BME Kirim 15 Ribu Liter Minyak Mentah ke Pertamina
Meski demikian,
program tersebut dinilai tidak hanya membantu warga memperoleh rumah layak
huni, tetapi juga berpotensi menggerakkan roda perekonomian desa.
Pasalnya, material
bangunan dibeli dari toko setempat dan tenaga kerja juga melibatkan warga
sekitar.
Selain memperbaiki
kualitas hunian, program tersebut juga diperkirakan kembali menghidupkan budaya
gotong royong di tengah masyarakat.
“Biasanya tuan rumah juga menyiapkan kopi, teh, dan gorengan untuk para pekerja,” tandasnya. (Endah/IST)


0 Comments
Post a Comment