INFOKU, BLORA – Menurut cerita turun temurun yang saat ini masih beredar di masyarakat, dahulu ada dua orang pertapa kakak beradik yang berasal dari Desa Janjang, Sang kakak bernama Jati Kusworo dan seorang adik bernama Jati Kusumo.
Dalam pertapaan tersebut sang kakak selalu makan dan tidur, maka sang kakak
dalam bertapa selalu membawa kendil (alat menanak nasi), sedangkan sang adik
tidak pernah makan dan tidak pernah tidur.
Maka sang adik mempunyai kemampuan dan kelebihan bila dibandingkan dengan
kakaknya.
Pada suatu hari Jati Kusworo memecahkan kendil alat untuk memasak nasi sehingga membangunkan sang adik, Jati Kusumo.
Baca juga : Bagi Pejalan Kaki Hati-hati .... Awas Digoda Dua Anjing Gaib
Tapi oleh sang adik puing-puing pecahan kendil tersebut berhasil
disusun/disatukan kembali seperti bentuk semula tanpa ada bekas pecahan sedikitpun.
Karena Jati Kusumo memiliki kemampuan linuwih (kelebihan=kesaktian), maka
sang adik oleh masyarakat setempat dijuluki dengan Sunan Janjang.
Karena merasa kemampuannya di bawah sang adik, Jati Kusworo merasa malu dan
pergi tanpa pamit (minggat) meninggalkan adiknya.
Namun tergerak rasa sayang pada sang kakak, Jati Kusumo mencari kakaknya.
Dalam pencariannya, Jati Kusumo menjelma menjadi harimau besar pergi ke
hutan untuk mencari sang kakak.
Suatu ketika Jati Kusumo, yang juga dikenal dengan Sunan Janjang mampir ke
sebelah barat desa.
Baca juga : Kisah Mistis Orang jalan Tanpa Kepala di Perumahan Tawangrejo Asri Blora
Tujuannya untuk menemui seorang perempuan cantik, badannya lencir (tinggi),
warna kulitnya kuning, dan berpakaian serba kuning, sehingga terkenal dengan
sebutan: Mbok Rondo Kuning, berasal dari Desa Jenjang.
Seorang perempuan dari sebelah timur menghampirinya dan menyatakan kecewa
karena beliau tidak mau singgah di dusun sebelah timur.
Menanggapi pertanyaan tersebut oleh Sunan Janjang mengatakan bahwa
orang-orang di sebelah timur mempunyai sifat iri (kemitren).
Maka oleh Sunan Janjang, untuk mengenang tempat tersebut besok kalau ada
Rejaning Jaman, Desa tersebut diberi nama Desa Kemiri, sedangkan desa sebelah
barat, karena beliau singgahi (mampir=disinggahi) maka desa tersebut diberi
nama DESA SEMAMPIR.
Dari cerita lain, diperkirakan bahwa asal-usul lahirnya atau sebutan lain tentang Desa
Semampir kurang lebih pada zaman Kesultanan Demak, sekitar tahun 1.500-an.
Pada saat terjadinya perang Bangsri, Zaman Kerajaan Mataram Islam.
Perang Bangsri terjadi sekitar 1890-an, merupakan pemberontakan masyarakat
Bangsri yang dipimpin oleh kepala desanya Noyo Gimbal melawan
Bupati Blora, Raden Mas Tumenggung Cokronegoro yang menyokong
pemerintahan Belanda.
Noyo Gimbal itu sendiri mempunyai nama asli Noyo Sentiko,
adalah anggota pasukan Pangeran Diponegoro setelah Pangeran Diponegoro
dipatahkan oleh Belanda tahun 1930, pasukannya menyebar ke daerah-daerah dan
mengadakan perlawanan secara sporadis.
Baca juga : Inilah Tempat Jin Cantik di Randublatung Yang Buang Emas Lamaran Yang Masih Misteri
Termasuk Noyo Santiko yang tidak akan memotong rambutnya sebelum Belanda
meninggalkan Pulau Jawa. Itulah sebabnya masyarakat menyebutnya Noyo Gimbal.
Diriwayatkan perang Bangsri berlangsung sangat lama dan heroik, pengaruhnya
sampai ke desa-desa tetangga, termasuk Desa Semampir.
Di berbagai tempat banyak ditemukan mayat-mayat bergelimpangan, mayat
serdadu Belanda ditemukan tersangkut (jawa = semampir) di sebatang pohon di
suatu tempat yang kita kenal sekarang Desa Semampir.


0 Comments
Post a Comment