INFOKU, BLORA – Suasana ramai terlihat saat memasuki lokasi wisata WBB yang berada di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Kamis (1/1/2026).
WBB
merupakan singkatan dari Wisata Banyu Bening yang dikelola oleh Badan Usaha
Milik Desa (Bumdes) Buana Tirta Tinapan sejak dua tahun terakhir.
Wisata
ini menawarkan berbagai wahana air, seperti kolam renang anak, pemandian air
hangat, bermain ikan, hingga seluncuran di aliran air menggunakan ban atau fun
tubing.
“Judulnya pokoknya serba air,” ucap Ketua Bumdes Buana Tirta Tinapan, Komed Abdullah, saat ditemui wartawan di lokasi.
Baca juga : Ingin Nikmati Alam "Telaga Sarangan-nya" Blora, Datanglah di Waduk Greneng
Dikelola Bumdes Sendiri
Komed
mengakui, perkembangan wisata tersebut terbilang lambat karena dikelola secara
mandiri oleh Bumdes tanpa melibatkan investor dari luar.
Meski
demikian, dia tetap optimistis wisata yang berada di belakang Pabrik Gula PT
Gendhis Multi Manis (GMM) tersebut dapat terus diminati pengunjung.
Saat
ini, pengelola tidak menarik tarif masuk bagi pengunjung. Pengunjung hanya dikenakan
biaya parkir kendaraan.
“Wisata
buka setiap hari. Mulai dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore,” kata dia.
Selama
musim liburan tahun baru, wisata tersebut ramai dikunjungi wisatawan, baik dari
Blora maupun luar daerah.
“Adapun
untuk luar Kabupaten Blora itu sudah ada dari Tayu, Juana, Pati, Rembang,
Sulang, dan Grobogan, termasuk Ngawi juga,” terang Komed.
Fun
Tubing Jadi Andalan Wisata Banyu Bening Dari sejumlah wahana air yang tersedia,
fun tubing menjadi yang paling diminati pengunjung.
“Yang
jadi unggulan sementara ini dengan keberadaan fun tubing,” ujar Komed.
Dia
menjelaskan, fun tubing merupakan aktivitas berseluncur menggunakan ban
mengikuti aliran air dari atas ke bawah dengan panjang lintasan sekitar 500
meter.
Untuk
menikmati wahana tersebut, pengunjung dikenakan tarif Rp 20.000 per orang.
“Saya sampaikan
kelebihan dari fun tubing itu mungkin bisa memangku anaknya.
Semisal di usia 3
tahun sampai 5 tahun itu bisa dipangku dan saya pastikan aman, karena kalinya
itu tidak ada potensi menenggelamkan soalnya dangkal,” jelas dia.
Selain itu, standar
minimal peserta fun tubing dalam satu rombongan adalah enam hingga tujuh orang.
“Kita tidak
membatasi untuk minimal jumlah peserta fun tubing. Semisal hanya dua peserta
kita terima, cuma kita gabungkan dengan peserta yang lain yang sesuai
standarnya yaitu enam sampai tujuh peserta,” terang Komed.
Perlunya
Evaluasi
Meski diminati
pengunjung, Komed mengakui masih banyak kekurangan yang perlu segera dibenahi,
salah satunya panjang lintasan fun tubing yang dinilai masih kurang.
“Terus terang saya
sampaikan mungkin ada tambahan kurang panjang. Dari sekian pengunjung yang ada,
dari apa pun kekurangannya, memang itu menjadi motivasi pengelola dan menjadi
bahan evaluasi kita ke depan,” ujar dia.
Manajemen antrean
pengunjung juga menjadi perhatian pengelola, mengingat tingginya antusiasme
masyarakat.
Karena membludaknya
pengunjung, pihak pengelola akhirnya membuka sistem reservasi agar pengunjung
tidak kecewa.
“Kami dari
pengelola itu enggak menduga kalau menjadi seramai ini. Pengelola bisa jujur
berkata masih belum begitu siap dengan keadaan pengunjung yang begitu
membludaknya, terutama untuk fun tubing,” katanya.
“Kita pertama
memang langsung di tempat, cuma melihat antrean yang panjang, pengelola
menentukan untuk reservasi dulu,” imbuh dia.
Selama musim
liburan tahun baru, Wisata Banyu Bening telah menerima ribuan pengunjung.
“Bahkan ini saja
sampai hari Minggu, 4 Januari 2026, itu kita sudah full atau overload
booking-an untuk peserta fun tubing,” kata Komed.
Masukan
Pengunjung
Salah seorang
pengunjung, Ani Ardhani, mengaku puas setelah merasakan sensasi fun tubing di
Wisata Banyu Bening.
“Seru, ada bagian santainya, kemudian ada bagian yang ekstremnya. Iya, ekstremnya juga ada. Seru pokoknya,” ujar Ani.
Menurutnya, tarif
wahana tersebut cukup terjangkau dibandingkan dengan wahana serupa di daerah
lain.
Namun, ia juga
memberikan sejumlah masukan kepada pengelola, terutama terkait pelayanan dan
kesiapan peralatan keselamatan.
“Ya, itu kan
sebenarnya tadi masih ada panjang ya. Setelah saya di garis finis itu
sebenarnya masih ada jalurnya. Kalau diperlebar itu masih bisa, bisa menaikkan
range harganya juga saya kira,” kata dia.
“Dan yang sangat amat harus dibenahi sesegera mungkin itu pelayanan,” imbuh Ani.
Dia menambahkan,
ketersediaan ban dan perlengkapan keselamatan dinilai masih kurang dibandingkan
dengan tingginya animo pengunjung.
“Ban dan safety-nya itu masih sangat kurang. Ketika kita datang ke sini, ban baru dipasang. Berarti kan jumlahnya masih sangat minim dibandingkan dengan animo masyarakat yang sudah sangat tinggi,” ujar pengunjung asal Randublatung itu.(Endah/IST)



0 Comments
Post a Comment