INFOKU, BLORA – Munculnya wacana 6 hari sekolah mendapat perhatian serius Bupati Blora Arief Rohman.
Sehingga
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora berencana meminta saran dan masukan dari
sekolah-sekolah terkait wacana penerapan kembali enam hari sekolah dalam
seminggu bagi SMA/SMK.
Bupati
Blora, Arief Rohman, menegaskan bahwa kebijakan enam hari sekolah merupakan
wewenang Pemprov Jateng.
“Karena ini kewenangan dari provinsi, ya tentunya nanti kita akan mendengar saran masukan dari SMA, SMK yang ada di Blora nanti seperti apa?," ucap Arief Kamis (27/11/2025).
Baca juga : Dinilai Lebih Efektif untuk Siswa, PGRI Blora Setuju SMA/SMK Kembali Sekolah 6 Hari
Dalam
waktu dekat, Pemkab Blora akan memanggil pihak sekolah untuk membahas wacana
tersebut.
Setelah
menerima masukan, pihaknya akan menyampaikan usulan tersebut kepada Pemprov
Jateng.
“Nanti
segera kita kumpulkan dari masukan itu, nanti akan kita sampaikan ke Pak
Gubernur terkait dengan hal tersebut," terangnya.
Pulang Sebelum Jam 1 Siang
Sementara
Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Blora, M Ali Rozaq, menyatakan
bahwa ia akan mengikuti aturan yang diterapkan oleh pemerintah.
“Saya
selaku kepala sekolah adalah kepanjangan tangan dari program pemerintah. Maka
apapun yang dihasilkan oleh pimpinan kita harus sami'tu wa'ato'tu (taat dan
patuh)," ucapnya saat ditemui wartawan di SMAN 1 Blora, Selasa
(25/11/2025).
Namun,
Ali Rozaq memiliki pandangan pribadi mengenai wacana enam hari sekolah.
Baca juga : Di Usia 57 tahun Seorang Guru dari 753 PPPK Formasi Guru Blora Resmi Dilantik
“Secara
pribadi, saya pengennya sekolah bisa pulang sebelum jam satu siang. Kenapa?
Biar orang tua lebih bertanggung jawab pada anaknya," katanya.
Menurutnya,
pulang sekolah pada sore hari dapat menyebabkan para siswa kelelahan.
“Kalau
pulang sore, seolah-olah kan diambil oleh sekolah atau negara. Nanti pulang
sebelum jam 1, mereka bisa membantu orang tua," tambahnya.
Lain
halnya ketua OSIS SMAN 1 Blora, Natasya Fadli Wibowo, juga menyatakan akan
mentaati wacana tersebut jika sudah dijadikan kebijakan.
“Jika
kebijakan pemerintah memang mengharuskan untuk enam hari, saya setuju. Tetapi
secara pribadi, saya dan teman-teman merasa agak sedikit keberatan,"
ucapnya.
Natasya
menjelaskan bahwa keberatan tersebut disebabkan oleh berkurangnya waktu bersama
keluarga.
“Kita butuh waktu
untuk istirahat, berkeluarga, dan mengeksplor diri di luar jam
pembelajaran," katanya.
Dia lebih memilih
untuk tetap bersekolah selama lima hari dalam seminggu, karena menurutnya,
perbedaan waktu pulang antara enam hari dan lima hari tidak signifikan.
“Ketika 5 hari
sekolah itu pulangnya jam 15.30 WIB, dan enam hari pulangnya jam 14.00 WIB,
menurut saya itu tidak ada bedanya," ujar Natasya.
Dia menambahkan bahwa meskipun merasa lelah dengan jam pulang yang lebih larut, hal tersebut dianggap wajar sebagai pelajar.
Baca juga : Sebanyak 955 Porsi MBG SMPN 1 Blora Dikembalikan, Imbas Dugaan Keracunan
Sebelumnya,
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, pada keterangan pers, menyampaikan
bahwa Pemprov masih mengkaji wacana penerapan program enam hari sekolah bagi
SMA/SMK.
“Masih dikaji untuk
ide enam hari sekolah," kata Sumarno dalam keterangan tertulis, Minggu
(23/11/2025).
Dia memastikan bahwa Pemprov akan menerima berbagai masukan dari elemen masyarakat, yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengkajian kebijakan tersebut.(Endah/IST)


0 Comments
Post a Comment