INFOKU, BLORA – Walau jaman telah modern namun tradisi menjamas pusaka saat bulan Suro masih terus dijaga oleh sebagian masyarakat.
Di Kabupaten Blora,
salah satu pelaku yang tetap konsisten melestarikan tradisi tersebut adalah
Mulyono.
Warga asli Blora itu mengaku telah membuka jasa penjamasan pusaka selama 24 tahun. Setiap bulan Suro, ia membuka layanan penjamasan tersebut di kawasan eks Stasiun Blora.
Baca juga : Tradisi Kirab Pusaka Kyai Bisma Blora Terlaksana
“Sudah sejak 2002
saya membuka jasa penjamasan di Stasiun Blora,” ujar Mbah Mulyono, sapaan
akrabnya.
Menurut dia, dahulu
terdapat dua orang yang membuka jasa serupa di lokasi tersebut.
Namun kini hanya dirinya yang masih bertahan. Tak
hanya warga Blora, pelanggan yang datang juga berasal dari sejumlah daerah sekitar
seperti Purwodadi, Rembang, Pati, hingga Bojonegoro.
Setiap bulan Suro,
sedikitnya 40 orang untuk menjamaskan pusakanya.
Untuk sekali
penjamasan, Mbah Mulyono mematok biaya sekitar Rp 30 ribu. Tarif tersebut
ditargetkan untuk menengah ke bawah.
“Saya memang menyasar masyarakat menengah ke bawah. Banyak petani yang punya pusaka. Sayang kalau tidak dirawat,’’ katanya.
Dalam proses
penjamasan, Mbah Mulyono menggunakan sejumlah bahan tradisional, diantaranya
air jeruk dan air warangan.
Warangan merupakan
material menyerupai batu yang akan larut ketika dicampur air.
Menurutnya,
perubahan warna air warangan saat proses penjamasan dapat menunjukkan kondisi
pamor pada pusaka.
Semakin hitam warna air yang muncul, maka semakin terlihat karakter pamor pusaka tersebut.
Baca juga : Festival Tosan Aji Blora Ada Ratusan Keris Pusaka Dipamerkan
Sebelum membuka
jasa penjamasan, Mbah Mulyono mengaku menjalani tirakat terlebih dahulu. Hal itu
dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian karena pusaka itu tajam.
“Bagaimanapun pusaka itu tajam dan bisa melukai saya,” pungkasnya. (Endah/IST)


0 Comments
Post a Comment