INFOKU, BLORA – "Kupat kecemplung santen, menawi kathah lepat nyuwun pangapunten (kupat dicelup kuah santan, kalau ada salah mohon dimaafkan)
Itulah kalimat yang
cocok jelang tradisi Lebaran Ketupat 2026 atau Bodo Kupat.
Itu terlihat penjual
janur kelapa mulai ramai bermunculan di pasar-pasar tradisional Blora, Jawa
Tengah.
Warga pun berburu janur untuk keperluan membuat ketupat dan lepet yang
menjadi sajian khas perayaan tersebut.
Baca juga : Idul Fitri Menebar Maaf Dalam Atmosfer Religiusitas
Di pasar tradisional Sido Makmur, salah satu penjual janur, Ngatono asal
Nglandoh, Sulang Rembang, menyebutkan dirinya mulai berjualan sejak H+1
Idulfitri 1447 Hijriah.
Dia mendatangkan janur dari Kebumen dan menjualnya dalam berbagai ukuran
ikat.
“Seikat janur 50 helai, dijual Rp20.000,00.
Sedangkan untuk ikatan besar (bongkokan) dijualnya Rp350.000,00” jelasnya.
Hal senada disampaikan Mujari, penjual janur asal Dusun Pojok Desa Buluroto
Kecamatan Banjarejo.
“Jadi ini untuk memenuhi kebutuhan janur saat Idulfitri 1447 H dan
menjelang tradisi kupatan, saya kulakan dari Kabupaten Kebumen. Hanya saja saya
tidak melayani grosir tetapi eceran,” terangnya.
Selain janur, dijual pula selongsong ketupat, tali lepet, hingga kelapa tua untuk santan.
“Untuk selongsong ketupat yang sudah jadi, saya jual Rp15.000,00 per 10
buah,” ucapnya.
Janur sengaja dibeli warga lebih awal untuk persiapan membuat selongsong
ketupat dan lepet menjelang tradisi kupatan (Lebaran Ketupat) pada H+7 Lebaran
2026.
Erika, salah seorang pembeli janur,warga Blora lainnya mengatakan membeli
lebih awal janur kelapa, kawatir kehabisan stok.
“Ini nanti bisa disimpan di tempat yang lembab, diperciki air biar tidak
layu daunnya,” ucapnya.
Untuk diketahui sebagian besar janur dipasok pedagang dari luar daerah
karena di wilayah Blora minim pohon kelapa akibat serangan hama kwangwung sejak
puluhan tahun terakhir.
Pedagang janur dari luar kota itu umumnya sudah punya langganan tetap,
yakni para pedagang janur lokal musiman yang menjual secara eceran.
Oleh sebab itu, begitu datang, janur yang mereka bawa langsung diambil para
pelanggan.
Ketupat atau kupat dibuat dari beras yang telah dicuci dan direndam dengan air beberapa waktu, kemudian dimasukkan ke dalam selongsong (wadah) dari janur kelapa.
Baca juga : “Setda Blora Berbagi Wajib Jadi Tradisi,” Komang G Irawadi
Sedangkan lepet adalah pasangan dari ketupat. Makanan ini terbuat dari
bahan beras ketan pilihan.
Cara membuatnya hampir sama dengan ketupat. Hanya saja, untuk wadah dari
janur dibuat dengan cara dilipat menjadi beberapa bagian, kemudian diisi beras
ketan. Biasanya dicampur parutan kelapa dan kacang tolo.
Supaya beras ketan tidak tumpah, lepet diikat dengan merang padi atau
sayatan bambu.
Beberapa warga di Blora, masih memasak kupat dan lepet di atas tungku tanah
liat atau perapian lain dengan bahan bakar kayu.
Kemudian ditunggu beberapa waktu, hingga masak dan siap dihidangkan dengan
aneka sayur berkuah santan kelapa.
Biasanya, sayur berkuah santan kelapa yang pas untuk makan ketupat, yaitu
sayur gori, tempe, tahu, kacang panjang dan ikan asap.
Ada juga beberapa warga yang memilih untuk membuat sayur opor daging ayam.
Tradisi Hajatan Kupat
Sementara itu pada pagi hari tradisi kupatan, biasanya warga setempat menggelar acara hajatan bersama di rumah perangkat desa atau di tempat lainnya yang sudah disepakati.
Baca juga : Inilah Kisah "Panji” vs "Adipati Gembong Amijoyo", Misteri Asal Usul Kesenian Barongan
Warga, khususnya ibu rumah tangga, membawa bungkusan berisi kupat dan
lepet.
Setelah berkumpul, tokoh masyarakat atau tokoh agama, memimpin doa bersama,
memohon keselamatan, kesehatan, panjang umur, serta dimudahkan mencari rezeki
kepada Allah SWT, sehingga bisa bertemu kembali pada tradisi kupatan di tahun
mendatang.
Beberapa warga juga membagikan ketupat dan lepet kepada famili atau
tetangga sekitar yang tidak berkesempatan membuat atau memasak.
Nama ketupat atau kupat, dari beberapa sumber, memiliki makna simbolis,
khususnya bagi orang Jawa Tengah.
Kupat atau ketupat bagi orang Jawa memiliki makna simbolis. "Kupat dapat berarti ku-ngaku pat-lepat.
Ngaku lepat (mengaku kesalahan) baik kesalahan yang dilakukan secara kasar (nyata/disengaja) maupun yang halus atau tidak kelihatan/tidak disengaja. (Setyorini)


0 Comments
Post a Comment