Cerita Blora - Tabloid INFOKU 44



Refleksi Hari Jadi Kabupaten Blora
Adu Kuat Gembong Amijoyo Vs Bupati Djoko Nugroho
Mungkin masyarakat tidak menyadari beban berat saat ini ada dipundak Djoko Nugroho ang saat ini menjabat Bupati Blora yang ke 27. Mengapa bisa dikata berat ? karena masyarakat Blora saat ini lebih intelektual dibanding sebelumnya.
Penulis mengartikan ini dari sudut pandang tingkat lulusan SMA sederajat dan Lulusan Perguruan Tinggi, dari tahun ke tahun jumlahnya makin banyak.
Namun demikian Sumber Daya Alam (SDA) Blora belum bias secara maksimal dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat Blora.
Untuk itulah tahun ketiga pemerintahan Bupati Djoko Nugroho yang didampingi Wakil Bupati Blora H Abu Nafi harus lebih keras bekerja demi mensejahterakan masyarakat Blora.
Djoko Nugroho (Kokok-panggilan akrab Bupati Blora-red) sebagai penguasa kabupaten Blora harus Mumpuni dan Digdaya untuk memanfaatkan SDA yang melimpah di bumi Blora.
Barometer kemampuan Pemimpin sekarang adalah keberhasilannya mensejahterakan masyarakatnya melalui pemikiranya. 
Lain dari jaman dahulu, seorang yang digdaya dan dapat menjadi penguasa daerah, seperti yang dikisahkan saat Blora ini masih berwujud hutan belantara.
Konon dijaman dahulu sebelum kabupaten Blora berdiri, wilayahnya semua tertutup oleh hutan.
          Saat itu hutan wilayah tersebut sangat lebat sekali sehingga sangat jarang manusia lewat dan melintasi daerah itu.
          Dikisahkan pula siapapun yang lewat ditengah hutan ini, dipastikan akan menemuhi berbagai halangan. Baik halangan dan gangguan seperti makhuk gaib ataupun yang lainnya.
          Tersebut ada seorang manusia yang menjaga hutan jati (Alas wengker- bahasa jawa)terbesar di Dunia ini, yang mempunyai kesaktian luar biasa.
Ketekunannya dalam bersemedi dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta, membuat dirinya menjadi orang sakti dijamanya. Orang-orang dijaman itu menyebutnya dengan sebutan Gembong Amijoyo.
          Dalam semedinya dihutan tersebut Dia menerima suara gaib, yang intinya bahwa hutan ini (BLORA dahulu kala-red) adalah daerah yang kaya raya. Dan dirinya (Gembong Amijoyo-red) oleh suara gaib tersebut diperintahkan untuk menjaga hutan beserta isinya.
          Usai bersemedi Gembong Amijoyo-pun yang mempunyai kesaktian yang dapat merubah dirinya menjadi harimau raksasa (Singo Barong/ Barongan-red) ini, menepati janjinya untuk menjaga hutan beserta isinya dari gangguan siapapun.
          Dikisahkan pula siapapun yang akan melintas atau memanfaatkan hutan tersebut harus meminta ijin pada dirinya. Konon ada cerita rakyat sampai saat ini masih berkembang di Blora, ada sekawanan perampok yang merusak hutan. Mereka menebangi hutan secara liar. untuk dijual dikerajaan lain.
Karena merasa daerahnya di rusak, Sang Gembong Amijoyo marah dan mengajak tarung mereka. Mereka yang berjumlah ratusan orang ini, akhirnya bertekuk lutut dibawah kaki Sang Gembong Amijoyo.
Entah sudah beberapa ribu orang yang mengalami kejadian seperti itu, sehingga setiap manusia yang akan merusak hutan dan isinya ini, pasti akan takut bila mendengar nama Sang Gembong yang mempunyai kesaktian luar biasa ini.
Dalam sejak dijaga Sang Gembong Amijoyo ini, masyarakat dipinggiran hutan dapat merasakan dan menikmati hasil hutan.
Sehingga kala itu boleh dikata masyarakat sudah sejahtera pada ukuran dijamannya.
Sekarang ini diera pemerintahan bupati Blora ke 27 ini (Djoko Nugroho-red) sudah saatnya bisa menjaga kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyatnya.
Langkah yang diambil bupati Blora dengan dukungan ketua DPRD menuntut lebih tinggi dari bagi hasil minyak bumi kepada pusat, merupakan satu langkah yang lebih maju. Langkah yang boleh dikata gaya Gembong Amijoyo sang barongan era modern. Yang mana untuk mempertahankan hasil bumi Blora, guna mensejahterakan rakyatnya. 
Bukan hanya sebagai penonton saja, saat hasil bumi Blora yang diperebutkan orang-orang pusat. Sedangkan kita yang hidup di Blora hanya kebagian residunya saja.
Penulis yang asli Cepu kabupaten Blora dan telah dipimpin tiga Bupati berbeda selama menjadi wartawan di Blora, menyadari betul tugas yang diemban Bupati Blora ke 27 (Djoko Nigroho) ini adalah yang terberat.
          Mewujudkan Pendidikan gratis sampai tingkat SLTA dan Mewujudkan pelayanan Gratis semua jenis pelayanan Puskesmas dan Kelas III di BRSD adalah dua dari 12 Misi dan Visi yang harus dicapainya dalam 3 tahun pemerintahanya. Apalagi saat ini saat ini telah masuk Bulan ke 4 tahun ketiga Pemerintahannya.
          Untuk itulah salah satu solusi adalah meningkatkan PAD, yakni dengan menuntut bagi hasil minyak yang lebih tinggi. Dirgahayu kabupaten Blora ke 263 dan selamat berjuang mewujudkan Blora yang lebih baik ….. Pak Kokok (panggilan akrab Bupati Blora Djoko Nugroho). Kesejahteraan rakyat Blora ada ditanganmu.  
(Penulis : Drs Ec. Agung Budi Rustanto, Pimpinan redaksi tabloid INFOKU)
 Baca Selengkapnya model tabloid
klik Gambar